HukrimKesraPemerintah

Alasan Beli Alat Medis Pakai Biaya Sendiri, Dokter Puskesmas Ini Minta Bayaran Rapid Test

Simalungun, Sumut (mediakomentar.net) – Senin (15/6) – Sungguh tragis, dimana saat ini Indonesia walau sedang menjalankan program new normal dimasa Pandemi Covid-19, kehidupan perekonomian masyarakat belumlah stabil bahkan ada mengarah kemiskinan karena susahnya mencari rizqi.

Tetapi lainnya halnya yang terjadi di Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara tepatnya di Kec. Dolok Pardamean. Dimana salah satu puskesmas  Nagori Pariksabungan (Puskesmas Sipintu Angin) melayani seorang warga yang mau mengurus Surat Keterangan Sehat yang hendak pergi keluar kota mengadakan tarif pelayanan yang dibebankkan kepada warga tersebut dengan alasan biaya medis dibeli pakai biaya sendiri.

N. Br Silalahi (red) yang merupakan salah seorang warga yang hendak berpergian keluar kota (Padang/Bukit Tinggi) untuk urusan keluarga dan demi patuh dan taat dengan program pemerintah di masa Pandemi Covid-19 menjalankan protokol dan syarat untuk keluar kota dengan  membawa Surat Keterangan sehat dari Puskesmas terdekat.

Untuk itu N. Br Silalahi mendatangi Puskesmas terdekat (Puskesmas Sipintu Angin) untuk mengambil Surat Keterang Sehat tersebut. Dan untuk itu saran seorang doketr yang bekerja di Puskesmas dengan inisial N Br Np mengatakan harus menajlankan Rapid test terdahulu. Tetapi untuk melakukan itu dokter tersebut meminta sejumlah uang sebesar Rp 200 ribu. Dan dikarenakan keterangan dokter tersebut, N Br Silalahi menjumpai suaminya yang berprofei sebagai awak media dan menceritakan hal yang baru saja dialaminya.

Untuk memastikan apa yang diakatakan istrinya sang suami (awak mediakomentar.net) mendatangi Puskesmas tersebut dan mengkonfirmasi permasalahan yang terjadi pada N. Br. Silalahi.

Disaat dikonfirmasi sang dokter N. Br Npn sedikit mengelak dengan menjelaskan beberapa hal menyangkut jumlah biaya terkait masa pandemi Covid-19.

“Kita tidak bilang itu ada pembayaran” terangnya

lalu sang dokter melanjutkan “kalau di rumah sakitkan bayar, sekarang kita tengok di Puskesmas, kalau bahannya di beli orang ini (pegawai puskesmas) ya bayarlah” tambahnya

Menyela pembicaraan dokter awak media menerangkan bahwa masyarakat tak tau kalau ada bayar. Selanjutnya dokter tersebut menerangkan kalau dia memiliki alat test kolesterol dengan dibeli pakai biaya sendiri. Seolah mengatakan kalau mau test kolesterol dengan pakai alat yang dia beli, masyarakat harus bayar.

Selanjutnya, awak media menanyakan ulang perkataan N Br. Silalahi persoalan kalau Rapid Test harus membayar Rp 200 ribu. Menanggapi ini sang dokter berkata

“Dengar ya Pak, siapa yang bilang tadi (nada suara sedikit tinggi) saya cuman bilang kalau VCR kalau mau berangkat ke Jakarta biaya di rumah Sakit 2,5 ke 4 juta (Rp 2,5 Juta – Rp Juta). Udah! dengar baik-baik ya. Kalau dia Rapid Test biayanya sekitar 500 ke 650 ribu ( Rp 500 Ribu – Rp 650 Ribu) kalau ke Rumah Sakit, Kalau di Puskesmas saya tidak tau, ngerti!” tegasnya

Lalu, setelah dokter tadi menerangkan kepada awak media biaya yang di kenakan di Rumah Sakit dan juga Puskesmas,. Kembali dokter N Br Npn menerangkan tentang bahan (alat medis )

“Kalau bahan itu dibeli orang lain (bukan Pemerintah) itu bayar, seperti saya. Saya tidak pernah membilang disini (Puskesmas) ada pembayaran, udah… udah ngerti” ucapnya kepada awak media.

Sungguh pernyataan yang membingungkan dari seorang dokter yang bekerja di Puskesmas milik Pemerintah. Manalah rakyat tau, kalau ada peralatan medis di Puskesmas di beli dengan biaya pribadi dokter. Yang tau masyarakat bahwa seluruh biaya yang dikenakan di Puskesmas, baik itu baiaya obat, alat medis serta para pekerja medis dan lain-lain dibiaya oleh Negara.

Sampai berita ini diterbitkan, Selasa (16/6) awak media belum mendapat informasi pasti maupun keterangan resmi dari instansi terkait menyangkut biaya-biaya  maupun bahan (alat medis) yang diutarakan dokter N Br Npn (lukder N)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *